Ceritaku Memutuskan Untuk Berhijab

Ceritaku Memilih Untuk Berhijab

Kisahku Memutuskan Berhijab

Kehidupan terus berjalan. Dulu, aku masih bayi. Tumbuh menjadi anak-anak, remaja hingga kini berkembang menjadi gadis dewasa yang duduk di bangku perkuliahan semester 5. Aku tak pernah menyangka akan secepat ini perjalananku mencapai usia sekarang. Seperti waktu cepat sekali berlalu. Rasanya baru kemarin aku mendaftar masuk SMP favorit di kota kelahiranku, Solo, eh ternyata udah kuliah aja saat ini.

Tahun depan udah 2020. Usia semakin bertambah, namun sebenarnya sih malah berkurang. Telah banyak masa-masa dari kecil hingga dewasa yang aku lalui. Asam manisnya kehidupan lah bisa dibilang. Mungkin pengalamannya memang nggak sebanyak orangtuaku atau orang yang lebih tua dari aku, tapi perjalanan hidupku pribadi cukup bisa membentuk menjadi aku yang sekarang. Aku sadar masih punya segudang kekurangan, tapi aku akan terus berusaha untuk menjadi yang lebih baik lagi di masa depan.

Manusia pasti punya salah bukan? Memang tempatnya salah malah. Jadi aku masih perlu orang-orang baik yang peduli padaku, untuk mengingatkan ketika aku “melenceng” dari jalan yang seharusnya. Sebisa mungkin kesalahan yang pernah aku perbuat di masa lalu, tidak akan kuulangi lagi di masa kini ataupun di masa depan. Baca juga >>> Review: Hijab Pashmina Diamond


Di artikel kali ini, aku ingin bercerita mengenai satu hal yang pernah aku janjikan sebelumnya untuk diceritakan. Tentang bagaimana akhirnya aku memutuskan untuk berhijab. Singkat cerita ketika masih duduk dibangku TK, aku bersekolah di TK islami gitu. Pasti memakai hijab saat sekolah. Ketika masuk SD, aku bersekolah di SD negeri dimana aku tidak memakai hijab ke sekolah. Sampai aku SMA, aku bersekolah di SMA negeri.

Hingga akhirnya menduduki bangku perkuliahan pada tahun 2017 lalu. Aku sebenarnya ingin sekali kuliah di kampus negeri. Kampus favorit banyak orang. Namun apa daya, belum rejekinya, aku tidak diterima. Segala upaya aku lakukan agar bisa layak untuk menjadi mahasiswa baru di kampus itu. Sebut saja kampus S di kota Semarang. Untuk cerita lengkapnya, mungkin aku akan membuat artikel sendiri ya guys. Biar enak bacanya hehe.

Aku pun diterima di kampus swasta. Setelah menjalani berbagai tes masuk perguruan tinggi negeri maupun swasta yang melelahkan dan membuang banyak waktu, tenaga, pikiran, dan pastinya uang orang tua. Aku dengan hati yang ikhlas, mencoba menerima kenyataan. Bahwa aku ditakdirkan berkuliah di kampus swasta. Kampus yang memang notabene mengharuskan mahasiswa atau mahasiswinya untuk lebih mendalami agama.

Khususnya perempuan, bukan disuruh sih lebih tepatnya pengaruh lingkungan yang mengharuskan untuk berhijab. Selain itu dulu saat aku masih duduk di bangku SMA kelas 11, aku memang sudah ada niat dan tekad untuk berhijab saat kuliah nanti. Jadi merasa seperti didukung juga oleh semesta untuk segera merealisasikan itu. Disamping aku yang bersedih karena tidak diterima di perguruan tinggi negeri, aku bersyukur dengan diterimanya aku di swasta. Menjadi lebih mantap untuk berhijab.

Kalau ditanya, apa motivasiku dulu saat SMA yang menginginkan berhijab atau apa yang membuatku berniat berhijab aku akan menjawab tidak tahu secara pasti. Awalnya aku hanya melihat temanku yang memang sudah berhijab sedari SMA, terlihat begitu anggun dan manis. Aku pun ingin seperti dia. Seiring berjalannya waktu, aku mulai mencari-cari informasi lebih mengenai hijab. Yang aku tau, di dalam Al-Quran sudah dituliskan. Bahwa perempuan diwajibkan untuk menutup auratnya. Artinya berhijab. Tidak memakai pakaian yang terbuka.

Ada lagi satu kalimat temanku yang membuatku tergerak hatinya untuk membulatkan tekad berhijab. Ia berkata “satu langkah keluar dari rumah tidak menutup aurat, akan mendekatkan ayahmu ke neraka”. Sungguh, kalimat itu membuatku seperti disambar petir. Tidak, aku tidak lebay. Memang begitu adanya. Aku takut membuat ayah masuk neraka karena aku yang tidak patuh perintah agama. Sebenarnya ayah tak pernah secara langsung mengatakan atau menyuruhku berhijab, namun aku sendiri yang saat dewasa akhirnya bisa memutuskan yang terbaik untuk diriku. Salah satunya ya berhijab. Baca juga >>> Jerawat Yang Membuatku Hampir Putus Asa

Kini genap 2 tahun lebih aku menjadi wanita Muslimah yang berhijab. Hijabku memang belum panjang, memang belum benar-benar sesuai syariat. Aku masih perlu banyak belajar. Semoga kedepannya aku bisa memperbaiki cara berpakaianku. Aamiin. Oiya kalau mau tau gerah nggak sih pakai hijab begitu? Jujur, awal-awal aku berhijab memang rasanya gerah. Seperti ingin cepat sampai rumah dan melapas hijabnya.

Ditambah bumi yang semakin hari semakin panas, mencoba membuatku goyah untuk melepas hijab saat di keramaian. Untungnya aku cepat beradaptasi dengan hal itu. Mencoba sabar akan segala hal yang bisa membuatku tidak istiqomah berhijab. Aku berdoa kepada Allah untuk menguatkan imanku. Orang tua sangat mendukung aku saat tau akhirnya memutuskan berhijab, tak ada halangan. Aku bahagia didukung oleh keluarga.

Terima kasih semuanya sudah mau membaca ceritaku. Jika ada yang ingin ditanyakan silakan kirim ke kolom komentar dibawah. Sampai disini dulu yaa. See you on my next article!

Previous
Next Post »


EmoticonEmoticon